Entah apa ini namanya yang pasti tanggal 23 Desember kemarin merupakan hari yang takan pernah aku lupakan untuk seumur hidupku. Kejadian yang tak mengenakan, tapi sarat akan pelajaran yang berharga.
Kejadian berawal saat aku harus ke Surabaya, dengan pesawat paling pagi. Pas tiba di bandara hasanudin sekitar pukul 4.20 menit aku langsung antri, saatdipintu gerbang aku dikejutkan oleh penjaga pintu, Ia mengatakan kalau tiketku sudah kadarluarsa, tapi aku tetap ngotot kalau tiket itu untuk penerbangan tgl 23. Sewaktu ia menunjukan tanggalnya barulah aku lemas, OMG ternyata tiket itu untuk tanggal 22, langsung aku telpon teman kantor yang pesan tiket, tapi sayang telpon ku tak diangkatnya…
Terpaksa aku harus membeli tiket baru untuk terbang ke Surabaya, walaupun harus merogoh kocekku sendiri, aku berfikir dari pada aku terlambat sampai sana dan semuanya akan lebih berantakan, karena aku sudah janji untuk bertemu tepat waktu. Lagi-lagi sial menimpa diriku, karena adanya kerusakan teknis, jadwal penerbanganku molor hingga 1 jam. Saat akan menghubungi teman di Surabaya Hpku sekarat (Lowbatte). Tak hanya itu Nootebook yang selalu menemaniku pun ternyata tertinggal di hotel, untunglah untuk yang ini masih ada temanku yang kebetulan ia tinggal lebih lama di Makasar. Tak hanya itu saja, ternyata saat itu cameraku tertinggal dalam tas ku yang ku masukan dalam bagasi, mmm aku harus menunggu tanpa bisa berbuat apa-apa, padahal aku sudah berangan-angan untuk mengabadikan bandara Hasanudin.
Ternyata keberuntungan masih berada dipihakku, setibanya aku di Surabaya aku masih sempat untuk bertemu rekan kerjaku, dan aku bisa menyelesaikan perkerjaanku tepat pada waktunya. Hingga rencana aku untuk pergi ke semarang dengan kereta api pun terlaksana.
Tapi itu ternyata hanya sesasaat, saat aku ingin membooking hotel ternyata naas masih saja menimpa diriku. Ternyata di dompetku tidak ada uang, ATM, bahkan kartu kredit, yang ada hanyalah ktp dan 2 lembar uang 50 ribuan. Dalam hati aku menyesal menolak tawaran temanku dan anaknya yang mengajak aku untuk tinggal di rumahku, bahkan dengan menjaga genggsiku aku minta untuk diantar ke atm terdekat (sorri loh mas
).
Keesokan harinya, aku memasang wajah memelas dan mengkesampingkan rasa malu untuk sementara waktu, aku beranikan diri bilang ketemanku itu, dan syukurlah ternyata dia teman yang baik dan mau meminjamkan untuk membayar penginapannya (Thanks loh mas… Cameraku enggak jadi digadaikan he..he…he).
Penderitaan ku belum berakhir sampai disitu saja, aku harus mengantarkan pesanan mami ke Madiun, padahal isi dompet sangat-sangat tiris. Terpaksa demi mami aku lari ke Madiun, dan bisa ditebak hasilnya, untuk balik kejakarta aku harus irit seirit mungkin, sampai-sampai aku harus menumpang sebuah truk (he…he..he..he). Untunglah aku sampa dijakarta juga, ya walau dengan usaha dan kerja keras yang cukup melelahkan.
Sewaktu dirumah mami, aku ceritakan kejadian ini pada adikku. Bukannya mendapatkan simpati atau rasa belasungkawa. Dia malah tertawa terpingkal-pingkal. “Itulah kalau memetik mawar kesayangan mami tanpa ijin, Mawar itukan punya kutukan” seloroh adiku santai sambil ngacir kekamarnya. Selidik punya selidik ternyata, dia juga pernah mengalami hal yang sama denganku, saat memetik mawar merah mami tanpa izin.
Dalam hatiku berpikir, “Inikah kutukan sekuntum mawar ?” *Ampe sekarang belum ketemu jawabannya*
Celoteh Sahabatku