Beberapa tahun lalu saat pertama kali aku dilanda cinta, seorang sahabat pernah berkata kepada diriku. “Ndut… jangan pernah berikan hatimu 100%”. Saat aku tanya kenapa dia berkata begitu padaku, dia hanya tersenyum, dan berkata “Mungkin saat ini aku percuma menjelaskan kenapa, karena kulihat dirimu sedang dilanda kasmaran, tapi suatu saat nanti kamu pasti mengerti, sebagai seorang sahabat, saat ini aku hanya bisa berkata seperti ini. Aku cuman tak mau kamu akan terluka nantinya”. Dan kalimat inipun aku dengar kembali dari seseorang yang aku cintai saat ini. “Mas.. jangan kau berikan hatimu 100% pada orang lain, meskipun pada ku dan anak kita nanti”. Sekali lagi aku dibuat bingung. Saat aku tanya kenapa, dia hanya tersenyum manis dan berkata “Ade hanya tidak ingin mas akan terpuruk dan sedih nantinya, jika suatu saat nanti orang-orang yang mas cintai meninggalkan mas terlebih dahulu”. Dengan bodohnya aku hanya mengerinyitkan dahiku, berusaha berfikir keras untuk mencerna kalimat terakhir yang dia ucapkan. Dan sepertinya dia tahu, dan kemudian ia melanjutkan kalimatnya kembali “Maaf mas bukan maksud ade untuk menakuti, ataupun meninggalkan mas, karena ade mempunyai seseorang. Tapi bukankah hidup ini tak pernah kekal, kita tak pernah tau apa yang akan terjadi pada esok hari, karena semua itu merupakan rahasia Ilahi.” Dan akupun tersenyum, ketika sedikit banyak aku mulai mengerti maksud dari kalimatnya.
Semalam sebuah sms meluncur di hpku, sekali lagi aku mendapatkan kalimat yang sama dari seorang sahabat dekatku “Ndut… jangan pernah kau berikan hatimu 100%, meskipun itu terhadap orang yang kau sayangi sekalipun, rasanya sakit ndut..”. Tanpa fikir panjang akhirnya akupun mencoba untuk menelpon dirinya, namun rupanya dia tak mau mengangkat telpon ku. Dan mengirimkan sms “Ndut… Gw lagi ingin sendiri.. maaf ya.., tapi yang jelas Gw telah memberikan hati gw 100% pada dirinya, dan kini dia meninggalkan gw”. Ha… aku terkejut membaca smsnya. Bagaimana mungkin selama ini aku melihat keluarganya baik-baik saja, dan begitu harmonis, bahkan setiap kali gw main ketempatnya, selalu mebuat hati ini iri. Kemudian dia pun melanjutkan smsnya pada ku “Inilah hidup ndut… semua serba misteri, yang kamu lihat itu hanya kulitnya saja, kamu tak akan pernah bisa melihat isinya meski kamu telah mengenal lama dirinya”.
Jangan pernah berikan hatimu 100%, kalimat ini tiba-tiba saja memenuhi setiap sudut otakku. Aku berusah berfikir keras dan mencerna setiap kata dari kalimat tersebut. Bener memang hidup ini tak pernah kekal, setiap ada pertemuan pasti akan ada suatu perpisahan, dan itu memang sudah menjadi hukum alam. Kala kita berpikir secara logis, kalimat itu memang benar sekali, saat kita telah memberikan hati kita 100%, maka saat orang tersebut meninggalkan kita, kita akan merasa kehilangan, dan bukan tak mungkin jiwa pun berkelana meninggalkan raga, walhasil hidup ini terasa hampa dan tak bergairah. Tapi yang menjadi pertanyaan dalam benakku sekarang ini, berapa % kah komposisi yang tepat untuk membagi hati ini, agar tak terluka dan sakit?. Aku pernah menanyakan kepada sahabatku, “Bos… menurut loe beberapa % gw harus memberikan hati gw ini pada orang yang gw sayangi?”. Dan sekali lagi dia berkata “Gw enggak tau pasti ndut, tak ada rumus, ataupun takaran yang baku untuk hal ini, karena kadar setiap orang itu berbeda, tapi yang pasti jangan 100% karena itu akan menyakitkan nantinya”.
Kalau dekan saya menasihati :
“Jangan mencintai sesuatu kalau anda tidak siap kehilangan apa yang anda cintai itu…”
hmm… kepada manusia kita bisa jatuh cinta… bagaimana rasanya jatuh cinta… semoga kita semua bisa belajar mencintai siapay di balik yang kita cintai dengan hati 100 %..
Salam Sayang
Jangan berikan hatimu 100%.. Aku masih sulit untuk mengerti kalimat itu Abi.. karena mencintai dengan tulus itu ya butuh ketulusan.. Kalo uang dimaksud dengan mencintai sesuai dengan ajaran agama kita, tidak memuja atau menggantungkan hidup pada orang lain itu setuju. Tapi gak 100% karena menyimpan cinta buat yang lain wahh..wahhh… ya pasti cepat atau lambat beneran gagal deh..
BTW.. welcome back Bro.. gak jadi out kan?
Aku kok malah bingung ya mas… Soalnya aku sulit sekali utk mencintai sesuatu…*semua rasa hampa*
salam hangat dan kangen selalu…
Tak ada yang abai dalam kehidupan sahabatku.
Diujung seiap kehidupan ada kematian.
Dan itu pasti.
Dan kematian = perpisahan.
Kalaupun kita gak bahas kematian
Karena walaupun pasti, gak ada yang tau persis kapan datangnya
Bisa lambat, bisa cepat..
Diantara titik awal kehidupan dan kematian itu ada perubahan.
Dan itu juga pasti.
Perubahan bisa positif atau negatif.
Bahkan cinta yang merupakan bagian dari elemen kehidupan juga gak lepas dari hukum-hukum alam itu.
Pasti kita akan bertemu dengan perpisahan, kalaupun berhasil melewati masa kehidupannya dalam cinta itu karena salah satu dan bahkan semuanya akan mati juga akhirnya.
Namun kadang sebelum titik akhir itu sampai..
Cinta bahkan juga bisa berubah karena manusia yang membawanya juga berubah.
Hampir tak ada yang bena2 bisa abadi dalam kehidupan..
Jika cinta itu ada yg abadi, tentu cinta itu gak perlu dijaga, dipupuk, disegarkan kembali, dipertahankan… Jika benar2 abadi tentu cinta itu gak akan berubah bentuk, dan akan tetap ada disana seperti awalnya, hingga kapan pun..
Namun itu ternyata gak bisa karena keadaan berubah, orang berubah, kita semua berubah. Dan cinta juga harus disesuaikan, menyesuaikan dan mencari bentuknya yang paling pas dari masa ke masa. Tanpa itu semakin tipis peluang melihat cinta yang bertahan langgeng..
Itu barangkali maksudnya jangan berikan cintamu 100%, sahabatku.
Karena 100% = absolut dan sepertinya hanya Allah yang berhak mendapatkannya. Dilevel horizontal pada kehidupan duniawi ini bahkan dalam matematika dan ilmu pasti pun, tak ada yang absolut dan dikenal adanya berbagai teori relativitas.
Tak berarti kita harus kehilangan optimisme menghadapi kehidupan… karena hanya itu yang membuat kita bisa menikmati kehidupan itu, selagi bisa kita nikmati…
Keep on moving forward and smile Bi..
Jangan berikan hatimu. memang benar, jangan berikan penuh.
Assalamu’alaykum..,
kak Abiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…
Ni vee datang bawakan hati 100% asli dari pasar duduk sampeyan…
masih suegerrr lohh
ayoh bikin sambel goreng ati..hihihihiy
Mas Abi, pernah dengar kata2 “Kesempurnaan hanya milik Allah SWT?” 100% kan sempurna, jadi itu hanya milik Allah SWT sang pencipta, kekasih sejati kita.. Jad kita sebagai makhluknya dilarang untuk menyamai-Nya, mencintai 100% kecuali kepada Dzat Yang Maha Kekal dan Abadi, Allah SWT.. Mungkin begitu ya? [garuk-garuk kepala]
Jalan-jalan…trus mampir…trus santai sejenak…trus sedikit merenung… Sedikit aja kok…gak sampe 100%…..hehehe Salam hangat selalu Mas…
belajar mencintai adalah belajar kehilangan lain pihak…
bi…abi…kangen deh sama lu
gmn kabanya? calon ponakan udah ada blom?
Lama, gak berkunjung..
Apa khabarmu Bi..??
ya ketika cinta datang selalu ada semangat membara.dan ketika cinta telah terasuki maka kegelisahan kan datang dan ketika cinta telah pergi maka prosentasase cinta akan hilang .
Selamat mencintai dengan setulusnya
Meski cinta tak ada 100%… Aku masih suka kemari…hehehe Salam hangat selalu mas…
assalamu’alaikum Kak Abi.. ^^ lama gak kemari.. gimana niyh kabarnya?
Numpang lewat aja mas
100%, bisa berarti sepenuhnya. tidak berbagi kepada yang lain. jadi tidak selamanya 100% diterjemahkan menjadi kesempurnaan. atau contoh lain adalah 100% halal, berarti tidak ada barang haram atau mubah di dalamnya. 100% terkantung kepada kata penyertanya,…. jadi…. jadi bingung nih….. pokoknya 100% comeback deh….. ha…ha….ha….
makasih bi, smsnya betul-betul miracle…..
Bener banget om
Mencintai % membenci sewajarnya
salam kenal…
gimana kalo 101% ajah?… hihihi…