Mungkin aku hanya bisa berkata maaf… maaf dan maaf… Kata inilah yang kini sering kuucapkan, buat belahan jiwaku yang memang harus aku tinggalkan. Bukan… bukan karena aku tidak lagi menyayangimu, tapi justru sebaliknya aku sangat sayang sekali padamu. Aku terpaksa meninggalkanmu, aku terpaksa menjauhi dan aku terpaksa tidak lagi mengajakmu. Walaupun hati ini merasa tidak rela untuk melepaskanmu. Tapi sekali lagi keadaan yang membuat aku harus melakukan hal ini, aku harus meninggalkanmu demi kebaikan mu dan diriku, demi kebaikan kita berdua.
Aku tak pernah meragukan kesetianmu. Kau telah membuktikan itu semua. Kau selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Kau tak pernah protes saat aku ajak berjalan jauh ditengah terik matahari. Kau tak pernah mengeluh saat ku ajak berdesak-desakan di KRL Jakarta – Depok. Kau hanya diam saat ku ajak menerobos banjir yang menggenangi Jakarta beberapa tahun lalu. Dan kau tak pernah merasa minder saat kau harus menemaniku ketempat-tempat dimana kau tak pernah dianggap oleh sekelilingmu. Sekali lagi, aku tak pernah meragukan ketulusanmu. Sudah cukup bukti yang menggambarkan kesetiaanmu dan pengorbananmu untuk ku. Dan aku tak kan pernah sanggup menguraikan satu perasatu bukti pengabdianmu pada diriku. Kau telah membuatku percaya diri saat kita berjalan bersama.
Ya… aku ingat, ketika kau menemaniku mendaki gunung bersama sahabat-sahabatku. Aku hampir saja kehilanganmu, karena waktu itu aku sempat tergelincir. Aku ingat saat aku harus menunggu jadwal penerbanganku yang didelay dengan seenaknya oleh maskapai tertentu, yang membuatku begitu bosan, kau dengan setia bersamaku. Aku ingat saat sahabatku merasa tak nyaman karena aku mengajakmu ikut bersamaku. Aku ingat, betapa beraninya kau menemaniku untuk menemui kakaku di asrama militer tempat beliau menjalani pendidikannya. Dan aku juga ingat, kau acuhkan beberapa pasang mata provost yang menantapmu dengan sinis, saat kita berdua melewati mereka.
Dulu memang aku begitu membelamu, melindungi dari tangan-tangan usil yang ingin memisahkan kita. Aku rela dikeluarkan dari ruang kelas saat dosenku memintaku untuk tidak mengajakmu serta saat kuliah. Aku tak takut saat kakakku marah melihat mu bersamaku waktu aku menjenguknya di asrama militer. Aku juga tak peduli saat ku mendengar gunjingan-gunjingan orang, saat mereka melihat ku bersama mu di hotel berbintang itu. Dan aku rela berdebat dengan sahabat-sahabatku ketika mereka keberatan untuk mengajak mu ikut bersama kami.
Tapi tidak untuk hari ini dan seterusnya. Cukup sudah kebersamaan kita sampai disini. Aku tak bisa membohongi hatiku sejak kejadian itu saat kita berada di Palembang beberapa waktu lalu, aku merasa kau tak pantas lagi untuk mendampingiku, kemanapun aku pergi. Itu kulakukan karena aku ingin menjauhimu. Maaf jika aku terkesan mencampakkanmu, aku tahu kamu pasti sakit hati dengan perlakuanku ini, tapi itulah kenyataan yang harus kau terima, kita tak mungkin bersama lagi karena
kondisi dan keadaan ini. Belajarlah untuk menerima kenyataan. Ingat kebersamaan kita ini hanya bersifat sementara, cepat atau lambat kita memang harus berpisah. Dan kita harus bisa menerima itu.
Cobalah kau merenung, dan berkaca agar kamu bisa berpikir jernih.Coba kau tanyakan pada hati nuranimu, apakah kamu masih pantas untuk menemaniku. Apakah aku salah jika aku meninggalkamu. Lihat.. lihatlah kondisimu sekarang, kau sudah tak layak untuk bersanding denganku.
Aku tak mau terluka karena keadaanmu sekarang. Maaf kan aku, kalau kini aku sudah menemukan penggantimu. Dia lah kelak yang akan menemaniku kemana aku pergi. Sekali lagi aku hanya bisa bilang maaf, aku harus melakukan hal ini. Dan untuk kesekian kalinya ku bilang ini karena kondisi dan keadaan yang memaksaku untuk melakukannya.
Yakinlah padaku bahwa kamu takan tergantikan dihatiku. Kenangan-kenangan indah saat bersama denganmu takan pernah bisa aku lupakan. Kenangan-kenangan itu akan selalu selalu terpatri didasar relung hatiku ini. Walau kini aku telah menemukan penggantimu, tapi kau tetap memiliki kisah tersendiri yang akan mewarnai kehidupanku. Selamat tinggal belahan jiwaku, terima kasih atas kesediaanmu yang selalu menemaniku dengan sabar dan tak pernah mengeluh kemanapun aku pergi. Maafkan aku, jika aku harus meninggalkanmu.
mengharukan
Whaaaaa………akhirnya aku bisa lihat sandal jepitnya Abi… bener kata Tanti.. merknya swallow..warna biru…
Abi.. abi belahan jiwa kok sandal jepit…
hmm meninggalkan-nya demi kebaikan-nya, emang kamu bukan orang baik ya
Hayah gw fikir serius… hahahah…
Hm.. selama ini abi teryata “tak gendong ke mana-mana” sama swallow ijo (kok biru sih?) ini toh!
Habis mengelana mencari tambatan hati yg baru yaa mas…hehehe Senang rasanya melihat kehadiranmu sobat… Salam hangat.. Salam damai.. Selalu..selalu..selalu……
hiks .. terharu abi .. saya sungguh terharu
mengapa kau campakkan dia
kasihkan sini untukku,
buat temen kerjabhakti di setiap minggu pagi …
Sungguh tega mas Abi… padahal kan sudah selalu menemani mas.. kok dicampakkan?? Ah sebaiknya ditenggerkan dalam tembok kamar saja mas… biar jadi hiasan.. wkekekek..
Ditaruh lemari kaca yaa Mas.. Salam hangat.. Salam damai selalu…
inget waktu kita kopdar???
lu kan pake sandal jepit ini juga!!!
jangan2 ya bi…sandal jepit ini ada ajian biar sekali negloby client tuh orang langsung jinak :d
Jangan2…itu punyaknya mbah surip Yaa…..? Hehehe… Salam hangat mas…
Sang sendal berkata :
“ooh…. teganya…
ooh… aku tahu ini akan terjadi, tapi tak kukira akan begitu menyakitkan seperti ini..hiks…
hancur, hancur, hancur hatiku…. hatiku hancuur…
*nangis Bombay*
Kasian banget sih
saya bener2 terharu…
salam kenal
Awalnya aku ingin menenangkanmu Boy…tapi ternyata…hufh..sabar-sabar pantas saja kamu bertengkar dengan dosen gara-gara dia.
hai semuanya…salam kenal ya…mas add link aku ya..link mas uda aku pasang.n kunjungi webku juga.dan silahkan gabung di membernya ya.bisa upload foto,posting blog dan update status mirip facebook.gabung ya…ditunggu kedatangannya
jangan sedih ya…. tetap semangat…
Akhirnya….
Ndut gue orang pertama yang bahagia loe berpisah dengan nya….
Akhirnya… kenapa enggak dari dulu padahal kan gue ini udah sebel banget sama sendal buluk loe itu….
Selamatya ya bro… sekarang gue udah enggak susah payah lagi ngumpetin lagi..
aduh…ngomongin sendal aja….ha h a ha mampir ke blog ku ya
Hallow Mas Abi… Baik2 aja khan…?? Pingin mampir dari kemarin Mas…hehe Salam hangat dan damai selalu….
Weeh… Ada yg lain nih di blog-nya Mas Abi… Apa yaaach….hehe Tambah fresh…Mas….
Salam hangat..terusssss
Waaah… Kemarin katanya hilang. Trus sedih dan dicari-cari… Sekarang malah ditinggalkan.. Gimana sich Bi..??? Hahaha…