PELAJARAN BULAN RAMADHAN

24 09 2008

Beberapa hari lalu ada sebuah kejadian yang membuat hati gw miris…

Waktu itu tepatnya 1 minggu sebelum lebaran. Gw bersama temen-temen kantor gw yang lama mengadakan buka puasa bareng…

Sewaktu menungu tempat yang belum kunjung siap, kami ngobrol ngalor ngidul dengan berbagai topic bahasan dipelatarannya.

Tiba-tiba dateng seorang anak jalanan menghampiri kami…dengan wajah lusuh, baju kummel dan rambut yang tidak tersisir. “Om… Mau beli kerajinan tangan saya om ?’ sapa anak itu dengan suara agak serak..”Coba saya liat sini de” Jawab si rafli sambil menyodorkan tangannya untuk meminta kerajianan itu. “Ini om” anak itu memperlihatkan sebuah perahu kecil yang terbuat dari kertas dan sebuah mobil-mobilan kecil yang terbuat dari kulit jeruk bali. “Berapa kamu mau jual de” Tanya si andi sambil berpandangan ke rafli dengan wajah heran. “Lima ribu rupiah om satunya, jadi kalu dua sepuluh ribu rupiah” Jawab anak itu dengan antusias berharap dagangan laku. “Apa kamu enggak salah, masa kayak gini lima ribu sih” sergah andi dengan wajah heran.”Iya om, saya kasih bonus deh om. Saya akan semir sepatu om sekalian, tapi om harus beli 2. Tolong ya om.” Terang anak itu  dengan sedikit memohon. “Oke sih deh saya beli semua. Kamu punya berapa de ?” Tanya fikri dengan nada menyejukan. “Makasih om.ya tapi saya hanya butuh sepuluh ribu saja kok om” Terang si Anak. “Duh sombong banget sih nih anak. Engak mau dibeli semua. Mending bagus apa. Anak gw aja bisa kok bikinnya.” Ujar andi dengan nada sebel. “Hus loe enggak boleh gitu lah.. Biar gimana pun kita harus menghargainya.” Serga doni..yang dari tadi ikut memperhatikan. “Kok gitu de memang kenapa ?” Tanya Rafli kembali. “Maaf ya om sebelumnya. Bukan saya sombong atau apa om. Cuman saat ini yang saya butuhkan hanya sepuluh ribu rupiah. Saya tahu kapal dan perahu ini tidak layak dihargai dengan uang sepuluh ribu, tapi saya terpaksa om. Saya butuh uang itu untuk beli obat adik saya yang sakit. Saya tidak mau meminta, karena almarhum orangn tua saya melarangnya. Dan sekarang hanya dengan menjual kapal dan perahu ini yang saya bisa lakukan. Kenapa saya minta sepuluh ribu, karena saya berharap dengan uang itu saya bisa membeli peralatan untuk menyemir, dan dengan itu saya insyaallah saya bisa mencari rezeki lebih.” Terang anak itu dengan wajah tenang.

“Tapikan de kalau kamu bikin banyak kan bisa mendapatkan uang yang lebih banyak lagi.” Celetuk Doni antusias. “Itu bener om. Tapi kalau saya melakukan seperti itu berarti sama saja meminta belaskasihan. Dan saya melanggar apa yang almarhum orang tua saya bilang” jawab sianak tegas. “Memang almarhum orang tua kamu berpesan apa de?” Tanya Rifki heran. “Beliau berpesan jangan pernah menadahkan tangan kamu untuk mendapatkan sesuap nasi, jangan pernah menjual keyakinan dan harga dirikamu untuk mendapatkan rezeki.dalam keadaan apapun. Berusahalah kamu dengan halal untuk mendapaktannya. Itulah nasehat yang sering saya dan adik saya dengar sewaktu beliau masih hidup.” Jelas sianak dengan mata yang berbinar. Seketika itu juga kami berempat terdiam. Kami merasa malu, muka kami terasa tertampar dengan ratusan tangan yang tak terlihat. bersemu merah serasa terbakar. Dada ini terasa terhimpit sesuatu yang tak jelas. Kami malu, dan tak berani menatap wajah anak itu. “Alangkah bahagianya dirimu de pernah mempunyai orang tua seperti itu.” Kata Rifki memecahkan keheningan. “I ya omm kami memang sungguh beruntung pernah memiliki orang tua seperti mereka, Terus gimana om. Jadi om beli kapal dan perahu saya ? Tanya anak itu mengalihkan pembicaraan. “Tentu jadi” jawab kami berempat secara bersamaan. “Wah senangnya, makasih om, tapi kok bisa kompak gitu ya.” Seloroh anak itu sambil tertawa. Akhirnya kamipun tertawa bersama.

 

Selepas buka puasa bersama, kami bergegas untuk pulang. Karena rumah kami searah akhirnya kami memutuskan untuk pulang bareng numpang mobil si Rifki. “Wah kebetulan nih bos gw enggak bawa kendaraan. Gw nebeng loe ya..” pinta gw ke rifki. “Iya rif kita ikut juga ya.” Kata doni dan andi mengamani..” Oke deh, tapi uang bensin patungan  ya, kebetulan nih bensin mobil gw abis” jawab rifki dengan senyuman kudanya. “Oke bos atur aja kita ikutan kok.” Jawab andi pasti.

 

Didalam mobil kami kembali membahas masalah tadi. Satu pelajaran buat kami semua yang selalu saja tak pernah puas dan terkadang menghalalkan cara apapun untuk mendapatkan suatu proyek.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: