KESENDIRIAN

15 11 2009

Akhir-akhir ini aku sungguh merasa heran, dengan orang lain yang mengusik kesendirianku. Apakah aku salah jika aku memilih untuk sendiri dan menikmati kesendirian ku ini. Apakah aku harus meminta ijin dahulu jika aku ingin sendiri, berjalan sendiri kemanapun aku mau, dan menikmati kesendirianku itu. Orang terdekatku pun tak pernah protes tetang hal yang aku lakukan ini. Tapi justru orang lain yang memprotesnya, menyindirnya, bahkan hampir memancing emosiku untuk meledak. Padahal aku merasa selama ini aku tak pernah menggangu dirinya, aku tak pernah membuat dirinya merasa tak nyaman. Dan apakan jika aku mempunyai teman,aku harus mengumumkan ke khalayak ramai. Memberitahu or bahkan menginformasikan kepadanya. Aku rasa itu bukan suatu hal yang penting. Aku mau punya teman, atau tidak mempunyai teman, seharusnya tidak mengusik dirinya. Aneh…. benar-benar aneh menurutku. Apa sih salahku hingga dirinya mengusik kesendirianku ini.

Sebenarnya aku tak mau mempedulikannya, tapi entah hari ini dia telah memancing emosiku untuk bergejolak. Untunglah aku masih sanggup untuk meredamnya. Dan akhirnya aku memilih untuk pergi. Terkadang aku bertanya, kenapa sih dia melakukan hal itu, padahal selama ini aku tak pernah mengusik dirinya, mau seperti apa dia, atau mau bertindak bagaimana dia. Tetapi hal yang berusan terjadi sempat membuat hati ini panas membara.

Memang kenapa sih kalau seseorang ingin sendiri. Apakah orang yang sendiri itu sudah pasti tidak memiliki teman. Atau orang yang berteman harus kemana-mana bersama temannya. Aku rasa tidak. Setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk menikmati kehidupannya. Setiap orang mempunyai kreativitas sendiri untuk menjalani kehidupannya. Ada yang ingin sendiri saja, berjalan sendiri dan menikmati kesendiriannya. Seperti diriku ini. Aku memang tipe orang yang senang sekali kemana-mana sendiri. Bahkan ketempat ramai sekalipun, seperti halnya mall, nonton, atau bermain bowling. Entah kenapa aku merasa nyaman dan tidak merasa kesepian. Tapi bukan berarti aku tidak mempunyai teman. ah… tapi biarkan saja, selama  aku menikmatinya, aku tidak merasa sendiri, dan aku tidak merugikan atau membuat orang lain sakit. Mau aku memiliki teman atau tidak biarkan saja aku yang tahu. Yang pasti selama ini teman-temanku selalu setia menemaniku dan mereka tidak pernah protes dengan sikapku ini.

Aku hanya berharap buat, orang-orang yang senang sekali mengurusi kesendirian orang lain. Hendaknya mereka itu menghentikan apriorinya. Sudah lah biarkan saja, lebih baik mengurusi diri sendiri saja. Jangan pernah mengusik orang lain dan jangan juga mengatur kehidupan orang lain.

Walah kok tulisanku kali ini banyak ngedumelnya… mungkin karena aku ini sudah jarang sekali menulis sehingga kehabisan bahan….. wakakakak… Sekali lagi maaf loh..ini hanya sekedar mengekspresikan kekesalan ku saja, agar tidak menjadi jerawat nantinya.. hi..hi..hi.. Ya beginilah caraku untuk meredakan emosi ku. he….h.e….he. Aneh ya..





Kisah Sang Raja

30 07 2009

Awal kisah, disebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian serombongan kambing datang melintas tempat itu. Bayi singa itu menggerak-gerakan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya. Ia merasa iba melihat anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara. Dan terbitlah nalurinnya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu.

Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai dengan penuh kehangantan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu si bayi singa tidak mau berpisah dengan sang induk kambing. Ia terus mengikuti ke mana saja sang induk kambing pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu.

Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambng dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak-anak kambing lainnya. Tiangkah lakunya juga persis layakna kambing. Bahkan anak singa yang mulai beranjak besar itupun mengeluarkan suara layaknya kambing. Ia mengembik bukan mengaum!

Ia merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing-kambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa.

Suatu hari terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas masuk memburu kambing untuk di mangsa. Kambing-kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga ketakuan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala.

“Kamu serigala cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan auman mu yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan” Kata ibu induk kambing pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar.

Tapi anak singa yang sejak kecil hidup ditengah-tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung dibalik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusunya diterkam dan dibawa lari serigala.

Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah.

“Seharunya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudara mu! Seharusnya kau bisa mengusir serigala yang jahat itu!”.

Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak paham dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala sebagaimana kambing-kambing yang lain. Anak singa itu merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali memburu kambing-kambing untuk disantap. Kali ini induk kambing tertangkap dan telah dicengkram oleh serigala. Semua kambing tidak ada yang berani menolong. Anak singa itu melihat induk kambing yang telah ia anggap sebagai ibunya

dicengkram serigala. Dengan nekad ia lari dan menyerundukk serigala itu. Serigala kaget bukan kepalang melihat ada seekor singa dihadapannya. Ia melepaskan cengkramannya.

Serigala itu gemetar ketakutan, nyalinya habis, ia pasrah, ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya. Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras, Emmbiiiik! Lalu ia mundur ke belakang. Mengambil ancang-ancang untuk menyeruduk lagi. Melihat tingkah anak singa itu, serigala ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang ada dihadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing.

Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa atau singa bermental kambing. Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan kepalanya layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda-kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya.

Anak singa itu terjerembab dan mengaduh, seperti kambing mengaduh. Sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa itu raja hutan?

Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap menghabisi anak singa itu. Disaat yang keritis itu, induk kambing  yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerja sang serigala. Sang serigala terpelanting, Anak singa bangun. Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsyat.

Semua kambing ketakutan dan merapat, anak singa itu juga ikutan merapat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut ditengah kawanan anak kambing itu ada seekor anak singa. Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari dan anak singa itu pun ikutan lari. Singa itu masih tertegun Ia heran kenapa anak singa itu ikutan lari mengikuti kambing? Ia mengejar dan berkata, “Hai kamu jangan kari, kamu anak singa bukan kambing, aku tak akan memangsa anak singa.

Namun anak singa itu terus berlari dan berlari. Singa dewasa itu terus mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap, dan ia terlihat begitu ketakutan. “Jangan bunuh aku, ampun!”. “Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak singa” Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata, “Tidak aku anak kambing, tolong lepaskan aku”. Anak singa itu meronta dan berterik keras. Suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing.

Sang singa dewasa hera bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih aiirnya, ia meminta anak singa melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa. Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, “Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa si raja hutan”.

“Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing” tegas singa dewasa. “Jadi aku bukan kambing? Aku adala seekor singa, raja hutan yang beribawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan”. “Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan” Kata sang singa dewasa. Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum keras. Ya mengaum dengan menggetarkan seantero hutan. Tak jauh dari itu serigala  ganas itu berlari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu. Anak singa itu kembali berteriak dengan penuh kemenangan, “Aku adalah seekor singa, raja hutan yang gagah perkasa”. Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya.

(Sumber “Ketika Cinta Bertasbih” Jilid 2 karya Habiburrahman El Shirazy)





SELAMAT TINGGAL BELAHAN JIWAKU

16 07 2009

Mungkin aku hanya bisa berkata maaf… maaf dan maaf…  Kata inilah yang kini sering kuucapkan, buat belahan jiwaku yang memang harus aku tinggalkan. Bukan… bukan karena aku tidak lagi menyayangimu, tapi justru sebaliknya aku sangat sayang sekali padamu. Aku terpaksa meninggalkanmu, aku terpaksa menjauhi dan aku terpaksa tidak lagi mengajakmu. Walaupun hati ini merasa tidak rela untuk melepaskanmu. Tapi sekali lagi keadaan yang membuat aku harus melakukan hal ini, aku harus meninggalkanmu demi kebaikan mu dan diriku, demi kebaikan kita berdua.

Aku tak pernah meragukan kesetianmu. Kau telah membuktikan itu semua. Kau selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Kau tak pernah protes saat aku ajak berjalan jauh ditengah terik matahari. Kau tak pernah mengeluh saat ku ajak berdesak-desakan di KRL Jakarta – Depok. Kau hanya diam saat ku ajak menerobos banjir yang menggenangi Jakarta beberapa tahun lalu. Dan kau tak pernah merasa minder saat kau harus menemaniku ketempat-tempat dimana kau tak pernah dianggap oleh sekelilingmu. Sekali lagi, aku tak pernah meragukan ketulusanmu. Sudah cukup bukti yang menggambarkan  kesetiaanmu dan pengorbananmu untuk ku. Dan aku tak kan pernah sanggup menguraikan satu perasatu bukti pengabdianmu pada diriku. Kau telah membuatku percaya diri saat kita berjalan bersama.

Ya… aku ingat, ketika kau menemaniku mendaki gunung bersama sahabat-sahabatku. Aku hampir saja kehilanganmu, karena waktu itu aku sempat tergelincir. Aku ingat saat aku harus menunggu jadwal penerbanganku yang didelay dengan seenaknya oleh maskapai tertentu, yang membuatku begitu bosan, kau dengan setia bersamaku. Aku ingat saat sahabatku merasa tak nyaman karena aku mengajakmu ikut bersamaku. Aku ingat, betapa beraninya kau menemaniku untuk menemui kakaku di asrama militer tempat beliau menjalani pendidikannya. Dan aku juga ingat, kau acuhkan beberapa pasang mata provost yang menantapmu dengan sinis, saat kita berdua melewati mereka.

Dulu memang aku begitu membelamu, melindungi dari tangan-tangan usil yang ingin memisahkan kita. Aku rela dikeluarkan dari ruang kelas saat dosenku memintaku untuk tidak mengajakmu serta saat kuliah. Aku tak takut saat kakakku marah melihat mu bersamaku waktu aku menjenguknya di asrama militer. Aku juga tak peduli saat ku mendengar gunjingan-gunjingan orang, saat mereka melihat ku bersama mu di hotel berbintang itu. Dan aku rela berdebat dengan sahabat-sahabatku ketika mereka keberatan untuk mengajak mu ikut bersama kami.

Tapi tidak untuk hari ini dan seterusnya. Cukup sudah kebersamaan kita sampai disini. Aku tak bisa membohongi hatiku sejak kejadian itu saat kita berada di Palembang beberapa waktu lalu, aku merasa kau tak pantas lagi untuk mendampingiku, kemanapun aku pergi. Itu kulakukan karena aku ingin menjauhimu. Maaf jika aku terkesan mencampakkanmu, aku tahu kamu pasti sakit hati dengan perlakuanku ini, tapi itulah kenyataan yang harus kau terima, kita tak mungkin bersama lagi karena

kondisi dan keadaan ini. Belajarlah untuk menerima kenyataan. Ingat kebersamaan kita ini hanya bersifat sementara, cepat atau lambat kita memang harus berpisah. Dan kita harus bisa menerima itu.

Cobalah kau merenung, dan berkaca agar kamu bisa berpikir jernih.Coba kau tanyakan pada hati nuranimu, apakah kamu masih pantas untuk menemaniku. Apakah aku salah jika aku meninggalkamu. Lihat.. lihatlah kondisimu sekarang,  kau sudah tak layak untuk bersanding denganku.  

Image(124)Aku tak mau terluka karena keadaanmu sekarang. Maaf kan aku, kalau kini aku sudah menemukan penggantimu. Dia lah kelak yang akan menemaniku kemana aku pergi. Sekali lagi aku hanya bisa bilang maaf, aku harus melakukan hal ini. Dan untuk kesekian kalinya ku bilang ini karena kondisi dan keadaan yang memaksaku untuk melakukannya.

Yakinlah padaku bahwa kamu takan tergantikan dihatiku. Kenangan-kenangan indah saat bersama denganmu takan pernah bisa aku lupakan. Kenangan-kenangan itu akan selalu selalu terpatri didasar relung hatiku ini. Walau kini aku telah menemukan penggantimu, tapi kau tetap memiliki kisah tersendiri yang akan mewarnai kehidupanku. Selamat tinggal belahan jiwaku, terima kasih atas kesediaanmu yang selalu menemaniku dengan sabar dan tak pernah mengeluh kemanapun aku pergi. Maafkan aku, jika aku harus meninggalkanmu.





JANGAN BERIKAN HATIMU 100%

6 06 2009

Beberapa tahun lalu saat pertama kali aku dilanda cinta, seorang sahabat pernah berkata kepada diriku. “Ndut…  jangan pernah berikan hatimu 100%”. Saat aku tanya kenapa dia berkata begitu padaku, dia hanya tersenyum, dan berkata “Mungkin saat ini aku percuma menjelaskan kenapa, karena kulihat dirimu sedang dilanda kasmaran, tapi suatu saat nanti kamu pasti mengerti, sebagai seorang sahabat, saat ini aku hanya bisa berkata seperti ini. Aku cuman tak mau kamu akan terluka nantinya”. Dan kalimat inipun aku dengar kembali dari seseorang yang aku cintai saat ini. “Mas.. jangan kau berikan hatimu 100% pada orang lain, meskipun pada ku dan anak kita nanti”. Sekali lagi aku dibuat bingung. Saat aku tanya kenapa, dia hanya tersenyum manis dan berkata “Ade hanya tidak ingin mas akan terpuruk dan sedih nantinya, jika suatu saat nanti orang-orang yang mas cintai meninggalkan mas terlebih dahulu”. Dengan bodohnya aku hanya mengerinyitkan dahiku, berusaha berfikir keras untuk mencerna kalimat terakhir yang dia ucapkan. Dan sepertinya dia tahu, dan kemudian ia melanjutkan kalimatnya kembali “Maaf mas bukan maksud ade untuk menakuti, ataupun meninggalkan mas, karena ade mempunyai seseorang. Tapi bukankah hidup ini tak pernah kekal, kita tak pernah tau apa yang akan terjadi pada esok hari, karena semua itu merupakan rahasia Ilahi.” Dan akupun tersenyum, ketika sedikit banyak aku mulai mengerti maksud dari kalimatnya.

Semalam sebuah sms meluncur  di hpku, sekali lagi aku mendapatkan kalimat yang sama dari seorang sahabat dekatku “Ndut… jangan pernah kau berikan hatimu 100%, meskipun itu terhadap orang yang kau sayangi sekalipun, rasanya sakit ndut..”. Tanpa fikir panjang akhirnya akupun mencoba untuk menelpon dirinya, namun rupanya dia tak mau mengangkat telpon ku. Dan mengirimkan sms “Ndut… Gw lagi ingin sendiri.. maaf ya.., tapi yang jelas Gw telah memberikan hati gw 100% pada dirinya, dan kini dia meninggalkan gw”. Ha… aku terkejut membaca smsnya. Bagaimana mungkin selama ini aku melihat keluarganya baik-baik saja, dan begitu harmonis, bahkan setiap kali gw main ketempatnya, selalu mebuat hati ini iri. Kemudian dia pun melanjutkan smsnya pada ku “Inilah hidup ndut… semua serba misteri, yang kamu lihat itu hanya kulitnya saja, kamu tak akan pernah bisa melihat isinya meski kamu telah mengenal lama dirinya”.

Jangan pernah berikan hatimu 100%, kalimat ini tiba-tiba saja memenuhi setiap sudut otakku. Aku berusah berfikir keras dan mencerna setiap kata dari kalimat tersebut. Bener memang hidup ini tak pernah kekal, setiap ada pertemuan pasti akan ada suatu perpisahan, dan itu memang sudah menjadi hukum alam. Kala kita berpikir secara logis, kalimat itu memang benar sekali, saat kita telah memberikan hati kita 100%, maka saat orang tersebut meninggalkan kita, kita akan merasa kehilangan, dan bukan tak mungkin jiwa pun berkelana meninggalkan raga, walhasil hidup ini terasa hampa dan tak bergairah. Tapi yang menjadi pertanyaan dalam benakku sekarang ini, berapa % kah komposisi yang tepat untuk membagi hati ini, agar tak terluka dan sakit?. Aku pernah menanyakan kepada sahabatku, “Bos… menurut loe beberapa % gw harus memberikan hati gw ini pada orang yang gw sayangi?”. Dan sekali lagi dia berkata “Gw enggak tau pasti ndut, tak ada rumus, ataupun takaran yang baku untuk hal ini, karena kadar setiap orang itu berbeda, tapi yang pasti jangan 100% karena itu akan menyakitkan nantinya”.





YOU ARE LOVEABLE

15 05 2009

13 Mei lalu aku mendapatkan sebuah sms dari seorang teman, dia mengirimkannya pagi hari, tapi sayang karena hpku tertinggal (kebiasaan buruk yang belum bisa kuhilangkan) maka aku membuka setelah aku pulang sekitar pukul 20.30 WIB. Isi sms itu berbunyi:

Sahabat adalah dia yang menghampiri kita ketika seluruh dunia menjauh, bukanmenghampiri kalau sedang butuh, karena persahabatan itu seperti tangan dengan mata. Saat tangan terluka maka mata menangis, saat mata menangis maka tangan menghapusnya.

“Selamat Hari Persahabatan Sedunia”

Kirim ini ke semua teman-teman yang kamu sayangi, jika aku salah satunya, agar dikirim balik! Lihat berapa banyak kamu mendapat balasan. Kalau lebih dari 7 artinya “U are loveable” Friends Forever.

Lumayan panjang memang, tapi aku rasa cukup bermakna. Maka tanpa berpikir panjang aku teruskan sms ini kebeberapa nomor yang ada phone book ku, termasuk ke seorang teman yang mengirimkan sms ini ke diriku. Terutama orang-orang yang telah lama sekali tidak aku hubungi, ya lumayan ada bahan untuk menyambung tali silaturahmi, pikir ku saat itu.

Keesokan paginya aku nyalahkan kembali hpku (kebiasaan ku kini kalau malam selalu mematikan hpku), dan ternyata ada 5 sms masuk, wah ternnyata sms yang sama dari beberapa temanku yang sudah aku duga sebelumnya kalau mereka akan mengirimkan sms itu balik (thanks guys). Sambil berharap-harap cemas, aku menunggu sms yang sama masuk ke hpku, tapi hingga malam hari, ternyata aku belum juga mendapatkan sms itu kembali, apa memang aku ini bukan loveable ya :( .

Akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan sms ancaman (kalau ada yang mau tanya ancamannya apa, itu rahasia, pastinya bukan ancaman pembunuhan, atau terror bom loh :D ) kebeberapa orang teman, termasuk yang di Surabaya dan di Jember (hik..hik..hik.. sorri ya mbak, btw thanks loh mbak udah mau ngirim), sebelum aku mematikan hpku. Dan ternyata pagi harinya aku mendapatkan beberapa sms itu lagi dan total sms yang aku terima lebih dari 7 sms. Hore ternyata aku ini seorang loveable donk, sambil nyengir kuda enggak jelas. Ya…. Walau sedikit memaksakan diri untuk mendapatkan “I am loveable” :P .

Thanks ya buat temen-temenku yang udah mengirimkan balik sms itu padaku, termasuk temen-temen yang mengirimkannya setelah mendapatkan sms ancaman atau sogokkan :P . Dan buat teman-teman yang belum mengirimkan balik padaku, masih aku tunggu loh he..he..he.. (batas waktunya masih lama kok sampai pilpres mendatang :D ). 

Sekali lagi aku hanya mau bilang bahwa sms ini bukanlah alat pengukur sebuah persahabatan atau menjadikan loveable untuk seseorang, karena bagiku persahabatan tidak bisa diukur oleh alat apapun, persahabatan itu hanya bisa kita rasakan, dan pastinya persahabatan itu sangatlah indah. Kalaupun aku mengirim sms ini ke teman-teman semua karena aku ingin temen-temen tahu, bahwa teman-teman sangatlah berarti bagi diriku, Karena teman-teman telah mewarnai kehidupanku.

Sebenarnya aku tidak mengharapkan untuk menjadi loveable kok (masa sih :D ), karena aku tau kalau dihati teman-teman aku ini memang loveable (GR.com), meski teman-teman belum mengirimkan kembali sms itu ke diriku :)